DICARI : Teman yang Menghilang
Udah 3 hari ini gw menganggur.
Setelah gw ucapkan sekali lagi kalimat awal tadi, mungkin harus gw ubah ya.
Baru 3 hari ini gw menganggur.
Tiga hari doang, rasanya kayak udah 3 minggu gak ada kerjaan. Jadi apakah yang gw kerjakan tiga hari belakangan? Since I am a semi self-centered girl, gw memikirkan diri sendiri tanpa gangguan pikiran soal kerjaan. Gw buka Friendster hanya untuk ngeliat komen2 lama di profile gw dan message2 tua di inbox gw. Reminiscing, remembering, missing…
What do I miss? I miss my friends! Guys and gals, where are you? Sial! Setaun ini gw kerja dan kerja, sama skali gw gak ngerasa kehilangan. Dan sekarang, ketika gw punya banyak waktu kosong (tapi mereka sibuk kerja), beneran rasanya gw kehilangan hubungan2 pertemanan yang dulu.
Where are you? Call me please? Mari kita rajut kembali pertemanan kita! Halah!
Current Affairs | Comments (5)Takdir : Pembenaran Atas Kegagalan
Jadi, kita sudah berkeinginan dan berusaha
Kadang usaha tertutup oleh keinginan yang terlampau raksasa
Ketika itulah yang kau terima bukan yang kau ingini
Tapi maka kau bilang,
Apalah mau dikata? Sudah takdirnya keinginan sirna? Jadilah semua kuterima
Kau gagal…
Karena takdir?
Life | Comments (4)Busy mind with love
Kenapa sih yang namanya jodoh itu gak langsung aja dikasih tau sesegera mungkin? Gw udah bingung ama yang namanya harus ketemu seseorang, jatuh hati, dan pada akhirnya hanya menemukan bahwa gw bukanlah yang terbaik untuk dia (atau sebaliknya), dan terus putus. Mending kalo putusnya baek2, kalo marahan dan jadi musuh? Mungkin gw juga yang bego karena gw sering punya pemikiran prematur tentang seseorang. Atau mungkin juga karena gw yang terlalu perfeksionis tentang menilai seseorang.
Look… I’m 23 now! This is an age when I though I’m gonna be married with a man of my dream. Tapi sekarang ternyata gw bahkan belom punya gambaran, "man of my dream" itu yang seperti apa..?
Pagi ini, diskusi panjang yang berlangsung antara gw, mama papa, dan adek gw, tesa (meski hanya sebagai pendengar) rasanya membuahkan banyak pikiran baru. Kita diskusi apa? Biasa, soal jodoh. Karena jodoh adalah topik hangat dan panas untuk cewek berumur 20-an. Katanya :
"Olga, yang penting dalam memilih cowok itu adalah orangnya seagama, baik, dan mapan"
Mapan disini bukan berarti si cowok ini udah punya rumah dan deposito, dan gw sebagai wanita tinggal masuk dalam hidup yang enak. Ternyata maksud mapan ini adalah, si cowok udah memiliki inner skill untuk menghadapi hidup. You know, pendidikan yang baik, moral yang baik, kepribadian yang baik.
Yah itu sih kriterianya bonyok (which is sangat beralasan dan sangat masuk akal. Now I need to set my own criteria… Any suggestion?
Love | Comments (6)Glad Sad Mad
Cerita klasik mengenai cinta manusia selalu jadi bahan bacaan yang menarik.
Menyayangi dan berharap.
Berharap dan diberi harapan.
Diberi harapan dan dikecewakan.
If my diary was a novel, begitu sajalah sebenarnya siklusnya. Persis seperti siklus cinta tersebut di atas. But I’m not the object, i’m the subject. And it only make things worse…
Uncategorized | Comments (2)Kenapa Bapak-Bapak Suka Menonton Berita TV?
Setelah beberapa lama saya menjalani hidup yang seperti dikejar-kejar (bukannya mengejar) tujuan, hari ini saya menyempatkan diri untuk mengambil sebuah novel lama dari rak buku saya. Saya buka di halaman 352 (catatan: sejak 4 bulan yang lalu, pembatas buku saya hanya berpindah dari halaman 350 ke halaman 352) dan saya membaca sesuatu yang menarik. Berikut ini versi yang sedikit telah di-edit :
“Kali ini, setelah sekian lama, Aku tidak menghidupkan TV untuk melihat berita larut malam, karena beritanya sama saja dengan yang kudengar ketika aku masih kecil: sebuah negara mengancam negara lain, seseorang mengkhianati orang lain, ekonomi sedang memburuk, perundingan Israel dan Palestina menemui jalan buntu.
Apa peduliku dengan semua itu? Apa pengaruhnya hal itu pada kehidupanku, atau kehidupan istriku? Bagaimana aku bisa menghabiskan lima menit waktuku yang berharga hanya untuk mendengar seseorang bicara tentang pemberontakan dan presiden, menonton adegan protes-protes di jalan diulang dan diulang lagi berkali-kali”
(The Zahir, Paulo Coelho)
Tulisan beliau menjadi semacam pembenaran pada ketidakpedulian saya terhadap berita TV. Waktu kecil saya tidak pernah mengerti kenapa orang dewasa senang sekali menonton berita. (saya lebih senang menonton Doraemon atau Dragon Ball). Ketika dewasa saya baru tahu jawabannya, dan ternyata alasannya tidak terlalu mengesankan.
Sederhana saja ternyata. Menurut pengamatan saya, orang dewasa (terutama pria) menonton berita TV dan membaca koran karena mereka ingin memiliki pengetahuan umum yang luas. Pengetahuan umum yang luas akan menjadi sebuah modal penting dalam percakapan bersama dengan rekan sejawat. Kita harus terus meng-update pengetahuan kita dengan menonton berita TV, membaca Detik.com, membaca koran, agar kita tahu bahwa hasil pemilihan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan diumumkan minggu depan. Dan kalau kamu bisa memberi pendapat mengenai betapa bodohnya metode pemilihan yang digunakan KPK (yang sebenarnya adalah pendapat seseorang yang dikutip sebuah koran) maka kamu berwawasan luas, maka kamu peduli keadaan sekitar, maka kamu intelek, maka kamu adalah seseorang yang pantas memperoleh tempat terhormat dalam kelompok bercakap-cakap tersebut.
Begitulah manusia, dari kecil hingga dewasa sebenarnya tetap memiliki sifat-sifat yang kekal: ingin diterima dan dihargai. Dan untuk memperoleh penerimaan dan penghargaan, kita menghabiskan 1-2 jam waktu yang berharga ini dengan membaca koran dan menonton televisi. Padahal dalam waktu satu jam kita sudah bisa membakar 200 kalori dengan lari di treadmill (pikiran seorang Olga yang merasa gendut). Padahal dalam waktu 2 jam perjalanan dari Jakarta, kita sudah bisa sampai ke Bandung yang sejuk dan dingin (pikiran seorang Olga yang kangen dengan kota asalnya). Padahal dalam waktu 2 jam kita bisa merenung dan menemukan jawaban-jawaban (atau pertanyaan lanjutan) dari pertanyaan mendasar “Kenapa kita ada?”.
Sementara saya menyampah soal kenapa orang dewasa suka membuang waktu untuk mengikuti berita, ternyata telah 1 jam waktu saya terbuang untuk mengetik tulisan ini, yang maknanya pun mungkin lebih tidak penting daripada pemilihan pemimpin KPK.
Itsy Bitsy | Comments (3)