Story never ends…

August 5th, 2006

Seorang lelaki biasa, tidak tampan, tidak tinggi, tidak terlalu  menarik. Ia berada di pusat keramaian dimana semua orang berkegiatan, bercanda tawa, saling menyapa, dan bertukar kata. Semua orang tidak berhenti bergerak. Setiap detik suasana berubah-ubah secara kontinu, tidak pernah berulang, tidak pernah sama.

Baginya dunia ini tidak pernah berubah. Karena dunianya hanya berisi dia seorang. Sejauh apapun ia melihat dunia, sebenarnya ia hanya mencari cermin untuk mengamati dirinya sendiri. Baginya, pusat keramaian adalah sumber kesepian.

Dan dia diam seperti lumpuh fisik dan hatinya. Ia terdiam karena ia belum menemukan satu hal apapun yang bisa menjadi pendorong dirinya untuk bergerak. Lebih baik diam daripada bergerak tanpa tujuan, begitu pikirnya. Namun setelah beberapa lama ia berkaca dan melihat ke dalam dirinya, ia juga tidak sanggup menemukan tujuan maupun alasan baginya untuk tetap terdiam disana. Ia terdorong untuk melakukan sedikit perubahan. Ia tegangkan otot kakinya, meluruskan sudut antara paha dan betisnya. Kemudian ia terdiam lagi, merasakan dunia yang konstan diam. “Apa yang ingin saya lakukan?”, pikirnya. Haruskah ia melakukan perubahan lagi?

Lelaki biasa ini ternyata memiliki satu hal yang membuat dia menjadi luar biasa, jika orang mengetahuinya. Daya ingat yang dia punya sungguh luar biasa. Ia teringat masa ketika ia masih sangat muda, ketika kulit mukanya belum dipenuhi oleh kawah-kawah kecil bekas jerawat dan luka masa lampau. Ketika bahkan rambutnya - yang sekarang telah mulai rontok – belum mampu menutupi kulit kepalanya yang berwarna putih terang. Ia baru beberapa hari keluar dari tempat perlindungannya, rahim ibu. Ketia itu ia tergulung kain lembut dari ujung kaki hingga bahu. Ia tidak dapat bergerak tentu saja, namun kenyamanan itulah yang ia rindukan selama ini. Mengetahui bahwa ada sesuatu yang mendukungnya untuk tidak melakukan apa-apa. Saat itu ia tidak pernah merasakan sakit. Ia hanya menerima lembutnya sentuhan ibunya, usapannya, dan senyumnya setiap ia membuka mata.

Kemudian ia teringat bahwa ia tidak selamanya berada dalam balutan kain. Lama-kelamaan ibunya tidak lagi menggulungkan kain itu di tubuhnya. Ia mulai dapat bebas menggerakkan tangan dan kakinya, menendang dan menggenggam kesana kemari.  Ia juga ingat bahwa ia belajar, perlahan-lahan, untuk membalikkan tubuhnya. Ketika ia melakukan itu, ibu dan ayahnya memperhatikan dengan mata penuh harapan, seolah-olah itu adalah hal yang besar. Begitu pula ketika ia mulai mencoba duduk, merangkak, berdiri, berjalan. Terlebih ketika ia mulai mencoba berlari, ibu dan ayahnya tertawa ceria bersamanya.

Sekarang ia sudah berdiri. Mungkinkah ia harus mencoba berjalan setelahnya? Apakah ia harus mengulangi hal-hal yang ia ingat telah ia lakukan dulu? Lagipula, ia tidak lagi dapat menemukan alasan yang tepat untuk membiarkan dirinya tetap terdiam. Maka ia mulai mengangkat kaki kanannya. Ia menarik napas panjang, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Sambil memejamkan matanya, ia menggerakkan tumit kaki kanannya ke depan. Satu langkah telah dilalui. Ia membuka matanya. Lega…ternyata berjalan tidak menyakitkan.

Dengan menjaga pijakan kaki kanannya, ia perlahan menggerakkan kaki kirinya yang masih tertinggal di belakang. Kini rasanya tidak semenakutkan langkah sebelumnya. Dua langkah sudah ia bergerak dari tempatnya semula.

Maka sikluspun berulang dengan mudahnya. Ia mengambil langkah ketiga, keempat, kesepuluh, keseratus. Semakin lama semakin konstan. Semakin lama semakin jauh. Kini ada satu atau dua orang yang mengetahui keberadaannya, karena ia menabrak mereka ketika ia berjalan.

(to be continued…)