Kenapa Bapak-Bapak Suka Menonton Berita TV?

August 13th, 2007

Setelah beberapa lama saya menjalani hidup yang seperti dikejar-kejar (bukannya mengejar) tujuan, hari ini saya menyempatkan diri untuk mengambil sebuah novel lama dari rak buku saya. Saya buka di halaman 352 (catatan: sejak 4 bulan yang lalu, pembatas buku saya hanya berpindah dari halaman 350 ke halaman 352) dan saya membaca sesuatu yang menarik. Berikut ini versi yang sedikit telah di-edit :

“Kali ini, setelah sekian lama, Aku tidak menghidupkan TV untuk melihat berita larut malam, karena beritanya sama saja dengan yang kudengar ketika aku masih kecil: sebuah negara mengancam negara lain, seseorang mengkhianati orang lain, ekonomi sedang memburuk, perundingan Israel dan Palestina menemui jalan buntu.

Apa peduliku dengan semua itu? Apa pengaruhnya hal itu pada kehidupanku, atau kehidupan istriku? Bagaimana aku bisa menghabiskan lima menit waktuku yang berharga hanya untuk mendengar seseorang bicara tentang pemberontakan dan presiden, menonton adegan protes-protes di jalan diulang dan diulang lagi berkali-kali”

(The Zahir, Paulo Coelho)

Tulisan beliau menjadi semacam pembenaran pada ketidakpedulian saya terhadap berita TV. Waktu kecil saya tidak pernah mengerti kenapa orang dewasa senang sekali menonton berita. (saya lebih senang menonton Doraemon atau Dragon Ball). Ketika dewasa saya baru tahu jawabannya, dan ternyata alasannya tidak terlalu mengesankan.

Sederhana saja ternyata. Menurut pengamatan saya, orang dewasa (terutama pria) menonton berita TV dan membaca koran karena mereka ingin memiliki pengetahuan umum yang luas. Pengetahuan umum yang luas akan menjadi sebuah modal penting dalam percakapan bersama dengan rekan sejawat. Kita harus terus meng-update pengetahuan kita dengan menonton berita TV, membaca Detik.com, membaca koran, agar kita tahu bahwa hasil pemilihan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan diumumkan minggu depan. Dan kalau kamu bisa memberi pendapat mengenai betapa bodohnya metode pemilihan yang digunakan KPK (yang sebenarnya adalah pendapat seseorang yang dikutip sebuah koran) maka kamu berwawasan luas, maka kamu peduli keadaan sekitar, maka kamu intelek, maka kamu adalah seseorang yang pantas memperoleh tempat terhormat dalam kelompok bercakap-cakap tersebut.

Begitulah manusia, dari kecil hingga dewasa sebenarnya tetap memiliki sifat-sifat yang kekal: ingin diterima dan dihargai. Dan untuk memperoleh penerimaan dan penghargaan, kita menghabiskan 1-2 jam waktu yang berharga ini dengan membaca koran dan menonton televisi. Padahal dalam waktu satu jam kita sudah bisa membakar 200 kalori dengan lari di treadmill (pikiran seorang Olga yang merasa gendut). Padahal dalam waktu 2 jam perjalanan dari Jakarta, kita sudah bisa sampai ke Bandung yang sejuk dan dingin (pikiran seorang Olga yang kangen dengan kota asalnya). Padahal dalam waktu 2 jam kita bisa merenung dan menemukan jawaban-jawaban (atau pertanyaan lanjutan) dari pertanyaan mendasar “Kenapa kita ada?”.

Sementara saya menyampah soal kenapa orang dewasa suka membuang waktu untuk mengikuti berita, ternyata telah 1 jam waktu saya terbuang untuk mengetik tulisan ini, yang maknanya pun mungkin lebih tidak penting daripada pemilihan pemimpin KPK.